Chapter 1: Darurat

10 Maret 2026 2471 kata ~13 mnt baca

“Kita harus bergegas, Nona Elise,” seru Nyonya Jenkins sembari memperlebar jarak langkah kakinya lalu mempercepat temponya.

“Astaga, Anda tak perlu bilang begitupun saya sudah tahu, Madam.” Elise bergegas menjajari Nyonya Jenkins. “Tadi Anda bilang pasiennya seorang remaja laki-laki, kan?”

“Iya, dia seorang pemuda yang penuh luka. Kau harus bergegas mengobatinya agar ia tak semakin berada dalam bahaya.” Nyonya Jenkins mulai kembali mengomel tak karuan.

“Ya ampun, saya tahu, Nyonya!” seru Elise gemas.

Tak butuh waktu lama untuk menuruni bukit kecil tempat gubuk kecil Elise menuju rumah Tuan Bratt yang berada di dekat sungai yang membelah desa kecil ini. Elise bergegas mendahului Nyonya Jenkins. Ia membuka pintu dengan kasar, lalu berseru garang, “Mana pasiennya?!”

“Ada di lantai dua, Nona Tabib!” Para penduduk yang berkumpul di dalam rumah segera menyibak jalan untuk Elise. Satu dua pria mendampingi Elise naik ke lantai dua. Di lantai dua sudah ada Tuan Bratt dan Kepala Desa. Melihat kedatangan Elise, mereka berdua segera menyingkir dari tepi ranjang.

Elise mendekati pasien itu lalu terkejut bukan main.

Sekali lihat saja sudah terlihat kalau luka yang dialami pria itu cukup parah. Elise segera membuka kotak peralatan, mengeluarkan gunting bedah, lalu mulai memotong pakaian pria itu. Astaga. Pria ini sungguh beruntung karena masih bisa bertahan hidup sampai saat ini. Luka goresan, beberapa bagian sedikit koyak seolah diserang oleh cakar binatang buas, juga memar-memar.

Elise segera mengambil disinfektan, lalu perlahan mulai mengelap area-area rentan infeksi. Ia juga membersihkan sisa-sisa darah di tubuh pemuda itu, mensterilisasi area-area yang rawan infeksi, baru kemudian perlahan merapal sihir penyembuhan.

Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya: jika memang bisa, mengapa sejak awal tidak langsung gunakan saja sihir penyembuhan? Jawabannya, sihir penyembuhan itu memang memiliki efek pemulihan dan peningkatan regenerasi sel tubuh yang cukup hebat, namun ilmu medis di dunia ini tidak menyarankan hal itu karena sihir penyembuhan hanya “menyembuhkan tubuh”, tidak “membersihkan kuman dan bakteri” juga. Tak jarang, ada kasus seseorang mengalami infeksi lanjutan akibat sihir penyembuhan yang tergesa-gesa dan terkadang infeksi internal akan meningkat secara bertahap hingga mencapai kondisi yang cukup parah. Pembersihan mikroorganisme patogen hanya dapat dilakukan lewat dua metode: penggunaan obat-obatan dan herbal atau menggunakan sihir suci. Oleh karena itu, bagi mereka yang menguasai sihir penyembuhan namun tidak menguasai sihir suci, disarankan untuk mempelajari dasar desinfeksi luka pasien dan tidak tergesa menggunakan sihir penyembuhan.

Elise berusaha semaksimal mungkin dan terus menjaga fokusnya. Dalam waktu sekitar 10 menit, ia akhirnya berhenti. Ia mengusap peluh yang mulai berbulir di pelipis. “Memang masih memerlukan perawatan lebih lanjut, tetapi setidaknya luka-luka fatal dan berpotensi menimbulkan infeksi lanjutan sudah disterilisasi dan ditutup dengan baik,” jelasnya panjang lebar. Elise bangkit dari tepi ranjang. “Kita tidak tahu kapan pemuda ini akan bangun, jadi tolong siapkan sup hangat saat ia bangun dan jangan biarkan kepalanya diletakkan lebih tinggi dari dua bantal. Mungkin menyuapinya akan cukup sulit karena tinggi dua bantal itu memang rendah, akan tetapi kita tidak bisa memaksa tubuhnya yang penuh luka untuk banyak bergerak terlebih dulu. Terlebih lagi, kita masih belum tahu apakah organ dalamnya juga mengalami kerusakan atau tidak. Besok aku akan siapkan peralatan dan obat yang dibutuhkan.”

“Apakah memar-memarnya tidak bisa disembuhkan dengan sihirmu juga, Nona Elise?” tanya Nyonya Jenkins.

“Sebenarnya bisa, tetapi seperti yang kukatakan tadi: kita masih belum tahu apakah organ dalamnya juga mengalami kerusakan atau tidak. Aku tidak ingin menyembuhkannya secara terburu-buru, lalu meninggalkan bagian yang terluka begitu saja dan menyebabkan penyakit lain jadi lebih parah.”

Nyonya Jenkins mengangguk-angguk lugu berusaha menyerap sebagian dari kata-kata Elise yang terasa cukup rumit baginya. “Lalu, untuk bahan supnya, aku harus siapkan yang bagaimana?”

“Cukup yang hangat dan dihaluskan saja. Usahakan bahannya ditumbuk selembut bubur agar tubuh bisa mencerna dengan mudah. Tambahkan beberapa sayuran yang dicincang dan dihaluskan untuk dicampur pada supnya dan memberikan sedikit kekuatan untuk tubuh.” Elise mengemas peralatannya. “Mungkin sampai di sini dulu. Aku akan menyiapkan alat dan obat-obatan yang dibutuhkan. Aku akan pergi sebentar ke klinik desa sebelah karena koleksi obat mereka lebih lengkap.”

“Biar saya temani, Nona Tabib,” tawar Tuan Bratt.

“Boleh saja. Sebelum itu, aku akan kembali ke rumah untuk berkemas dan menyiapkan kuda.” Tuan Bratt mengangguk setuju. “Kalau begitu, untuk hari ini mungkin kita cukupkan dulu. Aku pamit undur diri.”

[Desa Oakwood,
Beberapa Jam Setelah Matahari Terbenam]

“Belle, tolong padamkan lampunya. Ini sudah waktunya istirahat,” pinta Suster Maria.

“Tunggu sebentar lagi, Suster. Aku masih perlu menyelesaikan dua halaman lagi sebelum tidur,” sahut Belle tanpa memalingkan pandangan sedikitpun dari buku yang ia baca.

Suster Maria hendak menanggapi jawaban Belle, namun Prior Ena tiba dan berkata, “Permisi, Abbess. Ada tamu yang ingin menemui Anda. Haruskah saya minta mereka agar kembali besok saja?”

Maria berbalik ke arah Ena. “Siapa dia?”

“Nona Tabib dari Desa Woodkin dan seorang pria pengiring.”

“Elise tak akan datang di waktu istirahat seperti ini kecuali keadaannya cukup mendesak,” komentar Maria. “Biarkan mereka masuk. Aku yang akan menemui mereka sendiri.”

“Baik, Abbess.” Ena segera menghormat lalu balik badan dan buru-buru berlari. Sementara itu, Maria kembali berujar, “Belle, aku akan kembali lagi setelah menemui mereka jadi segera selesaikan bacaanmu karena aku ingin lampu sudah dipadamkan ketika aku kembali kemari.”

Belle mengangguk tanpa memalingkan pandangan sedikit pun. “Baik, Suster.”

Maria menghela napas lalu berjalan cepat ke ruang misa. Di situ, sudah ada Elise dan Tuan Bratt–ia mengenalinya karena beberapa kali berinteraksi dengan Tuan Bratt saat pergi mengunjungi Elise. Ena yang sejak tadi menemani mereka berdua segera pamit undur diri begitu melihat Maria tiba. “Jadi,” ujar Maria begitu ia berdiri di hadapan Elise. “Ada yang bisa aku bantu, Eli?”

“Satu pasien, pemuda. Kuduga usianya sekitar 20 tahunan awal. Kondisinya ada di tahap lima–”

“Astaga, itu sangat berbahaya!” Maria menutup mulutnya karena terkejut.

Elise mengangguk setuju. “Aku sudah memberikan pertolongan pertama jadi seharusnya saat ini sudah sedikit lebih baik. Perkiraanku, sekarang lukanya sudah turun ke tahap 3 atau paling tidak 4. Aku masih perlu memastikan ada kerusakan internal atau tidak.”

Maria mengangguk-angguk. “Jadi, kau sekarang membutuhkan bantuan suplai obat-obatan?”

Elise mengiyakan. “Obat-obatan yang diperlukan untuk pertolongan pertama kerusakan organ internal. Bahkan, sepertinya aku membutuhkanmu untuk memberikan sihir penyucian. Aku khawatir ada sejumlah bakteri yang masih tersisa ketika aku memberikan mantra penyembuhan tadi pagi.”

“Baiklah. Aku mengerti situasinya. Akan tetapi, kita tidak bisa langsung berangkat sekarang. Mari kita berangkat besok pagi buta saat fajar terbit dan lonceng pertama gereja berbunyi. Untuk malam ini, kalian lebih baik menginap lebih dulu di sini. Eli akan menginap di kamar para biarawati dan suster, sedangkan Tuan Bratt akan diantarkan untuk menginap di rumah jemaat terdekat yang masih terjaga. Bagaimana?”

Elise dan Tuan Bratt saling berpandangan sesaat lalu mengangguk. “Sepertinya hanya itu yang bisa kita lakukan. Kami akan merepotkan kalian untuk malam ini, Abbess,” ujar Bratt.

Maria menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “Ini bukan masalah besar. Ajaran sang dewi senantiasa menganjurkan berbuat baik kepada semua orang. Ena, tolong antar Tuan Bratt ke rumah salah satu jemaat kita.” Maria meninggikan nadanya di kalimat akhir agar Ena yang berada di dalam bisa mendengarnya.

Ena segera muncul kembali di ruang misa dan berlari mendekat. “Ba-baik, Abbess!” Ia segera mengajak Tuan Bratt beranjak.

Maria dan Elise beranjak masuk ke dalam asrama suster dan biarawati. Melewati ruang belajar Belle, Maria menghela napas lalu kembali mengomel, “Baiklah, Belle. Kau tadi sudah berjanji untuk segera beristirahat dan memadamkan lampu jadi segera berhenti membaca dan pergi beristirahat.”

“Ah-ah, maafkan aku, Suster.” Belle tergagap dan segera menutup buku yang ia baca.

Maria menggeleng-gelengkan kepala. “Besok pagi, aku akan pergi pagi-pagi buta. Jadi, aku ingin kamu membersihkan ruang doa dan altar sebagai hukumanmu. Jangan coba-coba kabur kecuali jika ada pasien yang datang. Aku akan meminta Ena untuk mengawasimu.”

“Ah, Anda terlalu kejam, Suster! Aku hanya lalai mematikan lampu!”

“Jangan berisik, Belle! Ini sudah malam!”

[Esok Pagi, Lima Menit Setelah Fajar
Depan Kuil Oakwood, Desa Oakwood]

“Baiklah, aku sudah mengikat semua yang dibutuhkan. Wadahnya tidak akan rusak kecuali mengalami guncangan hebat seperti jatuh atau tertabrak sesuatu,” ujar Tuan Bratt sembari mengeratkan tali pengikat pelana dan tas barang pada kuda tunggangan mereka.

“Baiklah, Maria akan naik ke kudaku. Sedangkan itu, Tuan Bratt yang akan mengendarai kuda yang membawa obat-obatan bawaan kita. Sesampainya di desa, kita akan segera pergi ke rumah Tuan Bratt dan mengobati pemuda itu.”

Maria dan Tuan Bratt mengangguk setuju. Mereka naik kuda masing-masing.

Maria menoleh ke arah para suster yang melepas kepergiannya, termasuk Ena dan Belle. “Aku pergi dulu, teman-teman. Aku akan segera kembali setelah kondisi pasien membaik. Tolong jaga kuil ini. Belle, Ena, kalau sampai akhir pekan aku tak dapat kembali, tolong gantikan aku sebagai pemimpin misa. Juga, tolong bantu para pasien yang datang ke kuil–aku yakin dengan kemampuan sihir penyucian kalian. Tolong kirim surat kepadaku jika keadaannya jadi memburuk.”

“Baik, Abbess.” Belle dan Ena mengangguk hormat.

Maria tersenyum melihat tingkah keduanya yang tampak kikuk namun berusaha tak merusak suasana, terutama Belle–yang andai dalam kondisi biasa ia sudah pasti akan protes kenapa harus dirinya.

“Kita berangkat!” Tuan Bratt menghela tali kekang lalu memacu kuda. Elise ikut memacu kudanya. Para suster melambai-lambaikan tangan mereka mengucap perpisahan sampai punggung mereka bertiga menjelma menjadi titik-titik hitam dalam pandangan mata.

[Beberapa Jam Setelahnya,
Depan Rumah Tuan Bratt, Desa Woodkin]

“Mereka sudah tiba!” seru salah satu penduduk begitu melihat kepulan debu tipis diiringi tiga sosok berkuda mendekat.

Benar saja, itu Tuan Bratt, Elise, dan Maria. Tanpa banyak bicara, begitu tiba di halaman rumah, orang-orang dengan sigap membantu Tuan Bratt membongkar tali pelana, ada yang membantu Maria turun dari kuda lalu membimbingnya ke kamar pasien di dalam rumah, juga ada yang menawarkan diri untuk mengikat tali kekang kedua kuda ke tempat yang aman dan dalam pengawasan.

Elise menyerahkan tali kekang kudanya, berlari kecil ke gubuknya, lalu kembali membawa alatnya sembari tergopoh. Di dalam, Maria sudah menyusun alat deteksi tubuh dibantu satu dua pria. Elise turut membantu.

Alat yang disiapkan sebenarnya sederhana: empat batu sihir yang dipasang pada empat tongkat perunggu. Keempat tongkat itu akan diatur sedemikian rupa mengelilingi ranjang pasien membentuk formasi segi empat. Empat batu sihir itu akan membantu tabib dan pendeta untuk memindai tubuh bagian dalam pasien.

Sebenarnya, sihir ini dapat dilakukan dengan rapalan biasa tanpa bantuan batu sihir, namun yang dapat menggunakannya tanpa kehabisan mana dalam jumlah signifikan hanyalah para penyihir tingkat lima ke atas. Karena para tabib dan pendeta masih memerlukan mana mereka untuk menyembuhkan luka pasien, biasanya batu sihir akan digunakan untuk efisiensi sihir dalam proses pemindaian. Bahkan, para tabib senior dan pendeta senior–yang terhitung memiliki jumlah dan distribusi mana yang efisien–juga tetap biasa menggunakan metode ini, entah demi efisiensi atau karena kebiasaan saja.

Selesai, Elise meminta semua orang di dalam ruangan selain dirinya dan Maria keluar.

Pintu berdebam ditutup.

Elise mulai merapal mantra. Maria ikut membantu stabilisasi mantra dengan menggunakan berkat tipe keberuntungan pada Elise. Mantra itu tak terlalu rumit. Secara teoritis, seorang penyihir tingkat dua pun dapat melakukannya dengan mudah karena dasar dari sihir ini sendiri adalah sihir pemindaian secara umum. Namun, karena diterapkan pada tubuh makhluk hidup yang terhitung sebagai objek bersistem rumit dan kompleks, konsumsi mana jelas akan meningkat drastis.

Keempat batu sihir di tongkat mulai berpendar tanda mana mulai mengalir ke mantra rapalan Elise. Tak butuh waktu lama, proyeksi sihir dari tubuh pasien itu muncul. Mulai dari organ dalam, sistem saluran darah, sampai tulang, semua dapat terlihat. Dan, pemandangan yang ditampilkan oleh proyeksi itu membuat Elise dan Maria sedikit menahan napas.

Ada satu dua organ dalam yang terkoyak. Tak sampai membuat organ itu mengeluarkan isinya, namun cukup untuk menciptakan pendarahan internal yang cukup hebat. Luka yang tak mungkin didapatkan dari kecelakaan biasa. Yang bisa melukai sampai selevel ini hanya seekor monster seperti Grizzbear atau sesama manusia.

“Kau menemukan pria ini di mana, Eli?” tanya Maria, masih dengan ekspresi tak percaya.

“Tuan Bratt yang menemukannya. Ia tergeletak di sungai desa kami begitu saja kemarin siang. Kemarin, kondisinya jauh lebih parah dari ini.”

Maria menggeleng-geleng kasihan. “Aku harus mulai membantunya.”

“Tolong jangan lama-lama. Aku hanya bisa mempertahankan sihir ini paling lama dua jam.”

“Sepertinya itu sudah lebih dari cukup.” Maria mendekat ke tepi ranjang, menangkupkan dua tangan, lalu mulai berdoa.

Berbeda dengan penyihir yang merapal dengan gerakan tangannya, pendeta menggunakan sihir suci melalui doa, menggunakan iman kepada dewa dewi kepercayaan mereka sebagai medium keluarnya mana suci menuju objek yang diinginkan.

Cahaya putih keemasan mulai berpendar di sekitar Maria, lalu perlahan merayap ke tubuh si pemuda. Cahaya itu perlahan meresap, menuju ke tempat-tempat luka, dan perlahan menyembuhkannya. Elise memandang semua itu dengan tatapan takjub. Kemampuan seorang Maria memang tak pernah berubah. Bagaimana pun, wanita itu pernah dikenal sebagai seorang pendeta pengembara paling andal yang pernah dikenal.

Selanjutnya, mereka berdua fokus dengan tugas masing-masing. Elise fokus mempertahankan sihir pemindaian untuk membantu Maria memvisualisasikan letak luka, infeksi, dan pendarahan dengan baik, sedangkan Maria fokus menelusuri satu-satu titik itu lalu menerapkan sihir penyucian secara perlahan untuk mencegah efek balik akibat penyembuhan mendadak.

Keringat mulai berbulir. Dan tepat sebelum Elise tumbang, akhirnya Maria menuntaskan doanya, mengakhiri sihir penyucian. Elise menarik napas lega dan segera menghentikan mantra pemindaian. Keduanya berkeringat cukup banyak.

Kondisi sang pasien sudah cukup membaik.

“Seharusnya hidupnya tak lagi terancam,” komentar Elise.

“Kau benar, Eli.” Maria menyeka peluh di keningnya. “Tetapi, ada kemungkinan besar pemuda ini masih menderita syok akibat lukanya itu. Syok itu juga bisa memengaruhi waktu bagi otaknya untuk bisa merespons pemulihan organ dengan benar dan memulihkan kesadaran.”

“Mungkin sekitar 4-6 hari lagi? Mari kita pantau saja.” Lalu, Eli tampak seperti teringat sesuatu. “Maria, apakah kau sudah mencoba pengobatan pada area tenggorokannya? Jika aku tak salah lihat, seharusnya tenggorokan pasien mengalami cedera yang lumayan parah.”

“???” Maria menelengkan kepala keheranan. “Kamu tidak sedang bercanda, kan?”

Gawat, rupanya gadis itu sedikit tidak perhatian. Elise segera merapalkan kembali mantera pemindaian. Kali ini, ia memfokuskan ke area dada dan kepala. Benar saja. Maria segera terkejut begitu menyadari kebenaran perkataan Maria.

“Astaga, aku melewatkannya!” seru Maria.

“Tenang, tenanglah dulu, Maria.” Elise mencoba menenangkan sahabatnya sembari menghentikan rapalannya. “Aku juga tak menyangka kamu melewatkannya. Tetapi, kondisi tenggorokan itu tampak sedikit membaik karena tadi kamu beberapa kali menerapkan sihir penyucian secara umum. Seharusnya kita bisa mengurusnya setelah beristirahat dan meminum potion pemulih tenaga dan mana. Mari beristirahat dulu. Jangan sampai kita menambah jumlah pasien. Bahkan, andai pasien ini gagal diselamatkan, kita tak boleh sampai menambah jumlah mayat yang harus dimakamkan.”

Maria mengangguk lemah. “Sepertinya waktuku berdiam di sini akan jadi lebih panjang dari biasanya.”

[Sepekan Kemudian,
Rumah Tuan Bratt, Desa Woodkin]

Seperti biasa, Tuan Bratt menyempatkan waktu sebelum tidur untuk mengecek kondisi sang pasien sesuai arahan dari Elise. Ia menaiki anak tangga satu persatu, menciptakan suara derit yang khas. Nyonya Jenkins sibuk membersihkan sisa makanan dan piring kotor di meja makan.

Sampai di atas, ia menghela napas sebelum perlahan membuka pintu kamar. Lalu, ia dibuat terkejut. Jika tak segera mengendalikan diri, ia hampir terjatuh kaget. Instingnya segera mendorong untuk segera berlari ke rumah Elise sembari berseru,

“Sadar! Orang itu sudah sadar!”

Pemuda itu perlahan membuka mata, berusaha mencerna semua informasi asing yang ia terima baik lewat pandangan yang buram atau pendengaran yang tak jelas.

Masa kritis telah berlalu.

Ia sudah sadar.


Chapter 1
Emergency
Selesai