Prolog
Sebuah siang yang damai di Desa Woodkin.
“Sayang, aku sudah menyiapkan makanan. Masuklah ke dalam dan hentikan dulu pekerjaanmu.” Suara Nyonya Jenkins melengking dari dalam rumah, menghentikan gerakan tangan Tuan Bratt. Ia meletakkan alat ukir, beranjak bangkit dari tempat duduk, lalu perlahan berjalan keluar lokakarya. Matahari sudah hampir mencapai titik tepat di atas kepala. Siang yang panas, namun segera disejukkan oleh hembusan lembut angin yang terus tiba.
“Aku akan pergi membasuh wajahku di sungai, Jenny,” seru Tuan Bratt sembari melangkah menjauhi rumahnya. Nyonya Jenkins menyahut mengiyakan dari dalam.
Di dalam rumah, Nyonya Jenkins menyiapkan piring kayu, sendok kayu, dan ketel sup di atas meja. Hanya untuk dua orang. Sepasang suami istri ini pernah memiliki anak, namun kini sang buah hati sudah tak ada sejak beberapa belas tahun yang lalu. Seiring waktu berlalu dan usia beranjak senja, mereka mulai mengikhlaskan kalau mungkin beginilah takdir dari keluarga kecil mereka: wafat tanpa meninggalkan satupun garis keturunan.
Nyonya Jenkins menata meja makan seperti biasa, lalu beranjak ke dapur sebentar untuk membereskan peralatan yang telah ia gunakan untuk memasak. Dan kemudian, saat suaminya kembali setelah puas membersihkan diri, mereka akan mulai makan siang. Begitulah. Hari-hari yang membosankan dan tenang itu seharusnya begitu.
Namun, hari ini ada sesuatu yang berbeda. Sayup-sayup, Nyonya Jenkins mendengar suara Tuan Bratt berteriak-teriak memanggil bantuan. Jarak sungai dengan rumah mereka memang tak jauh. Jadi, Nyonya Jenkins bisa segera tahu kalau ada hal gawat yang sedang terjadi. Tak peduli apa yang sedang ia kerjakan, ia meletakkannya begitu saja lalu bergegas lari keluar rumah, menghampiri tepi sungai. Beberapa tetangga yang tampaknya turut mendengar teriakan Tuan Bratt ikut berlari untuk melihat apa yang terjadi. Tampak Tuan Bratt sedang memangku seseorang yang tampak basah. Apakah ada mayat hanyut lagi kali ini?
Sesampainya di sana, Nyonya Jenkins bisa mendengar suara Tuan Bratt yang berseru, “Masih hidup! Napasnya masih ada! Aku masih bisa merasakannya!”
Juga, ia bisa melihat dengan jelas sosok yang sedang berada dalam dekapan Tuan Bratt: seorang remaja berambut sehitam arang dengan kulit pucat dan luka di mana-mana. Ada jejak aliran darah yang mengering dari mulutnya. Bibirnya membiru. Entah apa yang telah terjadi sebelumnya.
Kepanikan kecil terjadi. Secara spontan, orang-orang bersepakat untuk mengangkut remaja itu ke rumah Tuan Bratt dan Nyonya Jenkins. Nyonya Jenkins sendiri segera berlari untuk memanggil tabib desa, Anna, yang tinggal dekat lapangan desa. Saat itu, tak ada siapapun yang tahu bahwa pemuda yang baru saja mereka selamatkan ini akan menjadi salah satu kunci utama dalam sejarah Midgard ke depan. Di bawah rindangnya Pohon Ash Yggdrasil, di Midgard Keempat “Dandeloph”, telah muncul seorang manusia yang akan membawa perubahan besar pada takdir dunia. Roda takdir Midgard akan segera bergerak ke arah yang tak pernah terduga.
Chapter 0
Prolog
Selesai