Chapter 2: Akazawa Ryūga
“Selamat malam, Tuan Pasien,” sapa Elise ramah. “Saya tahu Anda sedang kebingungan jadi akan saya jelaskan situasinya secara singkat. Pertama, kita saat ini sedang berada di sebuah desa pinggiran di perbatasan utara wilayah Falmuth. Kedua, kami menemukan Anda terluka parah di tepi sungai kami, jadi kami segera memberikan pertolongan darurat dan untungnya upaya itu berhasil. Ketiga, saya adalah tabib yang bertanggung jawab atas penyembuhan Anda. Nama saya Elise. Anda bisa mengingatnya mulai sekarang karena kita akan sering bertemu selama masa pemulihan Anda. Keempat, kondisi Anda saat ini sedang tidak baik-baik saja. Anda baru saja melewati masa kritis. Terlebih, kondisi tenggorokan Anda saat ini sangat parah jadi saya sarankan untuk menghindari bicara selama beberapa bulan ke depan. Untuk itu, saat ini Anda dapat menggunakan isyarat kedipan mata untuk merespons ucapan saya. Kedipkan mata Anda dua kali jika Anda paham.”
Pemuda itu berkedip dua kali.
Elise tersenyum. “Terima kasih atas kerja samanya. Sekali lagi, perkenalkan, saya adalah Elise, tabib yang bertanggung jawab atas segala tindakan medis selama masa penyembuhan dan pemulihan Anda.”
[Seminggu Kemudian]
“Kemajuan yang cukup luar biasa,” komentar Maria.
Elise mengangguk setuju. Ia menyorotkan bola cahaya sihir untuk lebih menerangi bagian dalam tenggorokan pasien itu. “Sulit dipercaya kalau dia adalah seorang pasien yang sama dengan seorang pasien kritis nyaris sekarat dua pekan lalu. Permukaan tenggorokan sudah mampu menerima makanan yang lebih kasar dan bersuhu tinggi. Sihir penyucian milik Maria memang tak dapat diragukan lagi keampuhannya.”
Maria tertawa kecil. “Herbal-herbal yang disiapkan oleh Eli juga tak kalah penting kok. Sihir penyucian memang membantu regenerasi tubuh, akan tetapi herbal dan obat-obatan juga diperlukan untuk mempercepat prosesnya. Selain itu, sifat kooperatif Tuan Pasien juga memudahkan semua ini.”
Elise mengangguk-angguk. Ia selesai mengamati bagian dalam tenggorokan dan mencatat hasilnya di buku catatan medis pribadinya. “Tuan Pasien satu ini sungguh berbeda. Banyak yang menolak meminum ramuan obat-obatan kami karena menganggapnya terlalu pahit lah, terasa mencurigakan lah. Astaga! Aku ini seorang dokter yang sudah disumpah atas Sumpah Jenewa, tahu! Itu adalah sumpah profesional seorang tabib yang diikat dengan dewa jadi melanggarnya adalah sebuah tabu! Aku jadi harus berpikir lebih keras untuk menyesuaikan rasa ramuan obatnya agar dapat memuaskan si pasien sembari memperhatikan agar campuran perasa tak merusak kandungan dan fungsi obatnya.” Elise mulai mengomel tak karuan. Tanpa ia sadari, dahi pemuda itu sedikit berkerut karena ucapannya barusan–meski entah di bagian mana yang aneh.
“Tetapi!–” lanjut Elise sembari menunjukkan penanya ke arah si pasien. Si pasien sontak terkejut karena mendadak ditunjuk. “Anda berkenan menuruti semua instruksi saya dan Maria tanpa mengeluh ataupun menunjukkan perlawanan sedikitpun. Alhasil, tingkat kesembuhan Anda jadi meningkat drastis dalam rasio yang lebih tinggi dari kebanyakan pasien kami. Saya bangga dengan Anda.”
Pemuda itu tersenyum malu-malu. Ia mengisyaratkan rasa terima kasih. Elise tersenyum balik lalu kembali berujar, “Untuk saat ini, kami akan undur diri. Saya akan kembali lagi dalam dua hari untuk mengecek kondisi Anda. Kami pamit.”
Pemuda itu mengangguk. Elise merapikan alat-alat pribadinya dan memasukkannya ke dalam tas kecil lalu membungkuk hormat bersama Maria sebelum melangkah keluar dan menutup pintu.
“Bagaimana kondisinya, Nona Tabib?” Nyonya Jenkins muncul begitu saja saat mereka selesai menutup pintu. Elise dan Maria sedikit terlonjak kaget namun segera kembali mengendalikan diri.
“Pasien sudah memasuki kondisi stabil. Mulai sekarang, kami sudah bisa mengurangi frekuensi kunjungan, bahkan sepertinya saya sendiri sudah cukup untuk melakukan pengecekan rutin ini. Bagaimanapun juga, Abbess Maria juga dibutuhkan di Desa Oakwood. Dia tidak bisa berdiam lebih lama lagi di sini.”
“Ah, benar juga.” Nyonya Jenkins meraih tangan mereka berdua dan menggenggamnya erat. “Terima kasih. Saya sangat berterima kasih atas seluruh bantuan kalian berdua selama ini.”
“A-anda tidak perlu seperti ini, Nyonya Jenkins. Kami memang melaksanakan tugas kami yang sudah seharusnya kami lakukan!” seru Maria. Nyonya Jenkins tersenyum tipis, namun matanya menerawang jauh. “Kami dulu punya anak laki-laki. Seumuran dengan dia,” ucapnya pelan. “Namanya Alain.” Suasana di ruangan itu mendadak hening. Elise dan Maria saling pandang, menahan napas agar tidak mengganggu momen itu. “Kalau saja demam itu tidak merenggutnya…” Suara Nyonya Jenkins tercekat sejenak, lalu ia tertawa kecil—tawa yang terdengar damai namun menyayat hati. “Ah, maaf. Aku dan Bratt sudah lama berdamai dengan takdir. Tapi melihat pemuda ini terbaring di sini, melihatnya masih bernapas… rasanya seolah Alain pulang ke rumah.” Ia menatap Elise dengan mata berkaca-kaca. “Rasanya egois, kan? Merasa terhibur di atas kemalangan pemuda ini. Tapi tolong, biarkan kami merawatnya. Setidaknya, izinkan kami merasa menjadi orang tua lagi untuk sementara waktu.” Elise maupun Maria terpekur. Mereka merasa tak mampu mengatakan apapun. Mendadak, Tuan Bratt naik ke atas sembari berujar, “Astaga, aku tahu kau tak bermaksud begitu tetapi kau tetap membuat mereka jadi merasa tak enak begitu, Jenkins.” Tuan Bratt mendekat lalu menepuk pundak mereka. Meski ia berkata begitu, namun sorot matanya tetap memancarkan perasaan yang sama seperti Nyonya Jenkins: rasa penuh terima kasih. “Kalian sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang tabib dan pendeta. Kami akan berusaha membayar jasa kalian sebaik mungkin.”
Elise masih kebingungan harus menjawab apa. Untungnya, Maria yang cukup berpengalaman dalam masalah ini bisa segera menguasai diri dan berujar, “Itu sudah menjadi tugas kami, Tuan Bratt, Nyonya Jenkins. Kalau begitu, kami pamit undur diri. Semoga dewa senantiasa menyertai kita dan memberikan sang pasien kepulihan,” balasnya sembari menangkupkan kedua tangan.
Lalu, keduanya melangkah keluar dari rumah sepasang suami istri tua yang cukup unik itu. Di depan, mereka masih termenung cukup lama. “Aku masih belum terbiasa untuk menangani orang-orang yang tiba mengucapkan hal-hal seperti itu,” aku Elise.
Maria tertawa kecil. “Lagipula, Eli memang baru bertugas penuh sejak 2-3 tahun yang lalu jadi itu hal yang wajar.” Ia menatap ufuk yang membentang di ujung langit senja. “Bagi kita, semua itu memang hanya prosedur medis yang lainnya. Namun bagi pasien, kalau boleh mengungkapkannya dengan sedikit kurang ajar, kita adalah ‘dewa penyelamat’ mereka dari batas antara hidup dan mati itu. Apalagi, kalau rupanya orang-orang di sekitar pasien memiliki keadaan yang rumit seperti Tuan Bratt dan Nyonya Jenkins.”
Elise yang turut menatap ufuk hanya diam. Lalu, ia menghela napas panjang dan berkata, “Mungkin kau benar.” Jeda sesaat. “Jadi, kau akan kembali sekarang?”
Maria mengangguk. Ia melepas tali kekang kuda pinjaman yang disiapkan untuknya. “Aku harus segera kembali. Aku sudah meninggalkan kuil selama 2 pekan. Belle dan Ena memang seorang gadis kuil yang baik dan cekatan, tetapi mereka masih belum mampu mengatasi semuanya sepertiku.” Maria pergi ke balik sebuah bilik, berganti pakaian khusus menunggang, lalu menaiki kuda dengan mudah.
“Yakin tak perlu ditemani?” Elise menyilangkan tangannya di dada.
Maria menggeleng cepat. “Tak apa. Eli sudah tahu siapa aku kan? Lagipula, Eli masih perlu merawat pasien itu sampai sembuh dan tidak ada pria di desa yang dapat menemaniku karena mereka harus pergi ke ladang besok pagi. Sudahlah, kalau kita terlalu lama berbincang, bisa-bisa aku sampai ke kuil saat sudah terlalu larut. Aku pergi dulu, Eli. Sampaikan salamku pada semua orang di desa.”
Elise hanya mengangguk dan melambai kecil seiring derap langkah kuda yang membawa Maria. Setelah bayangan Maria berubah menjadi titik kecil tak terlihat, Elise kembali menghela napas panjang lalu membalikkan punggung, berjalan pulang sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku bingung harus bereaksi seperti apa karena aku melakukan ini juga demi kepentinganku sendiri,” gerutunya.
Namun, jelas gerutuan itu hanya sebatas ucapan samar yang tak diketahui siapapun. Selanjutnya, Elise dengan telaten merawat pasien itu. Ia meresepkan sup obat, memberikan salep, sesekali menerapkan sihir pemulihan yang terkondensasi dalam kristal sihir kiriman Maria, serta memantau kesehatan pasien itu secara berkala.
Waktu berjalan begitu cepat. Dalam sebulan setelah kepergian Maria, pasien itu sudah mulai bisa bergerak bebas di atas kasur meski dalam skala gerakan yang terbatas.
Pada bulan ketiga, si pasien mulai bisa berjalan normal. Awalnya jelas tertatih tatih dan tanpa tenaga sama sekali karena ia telah berbaring di ranjang selama berbulan-bulan. Setelah rehabilitasi selama dua pekan, ia sudah bisa berjalan, setidaknya di dalam kamar dengan bebas. Masih perlu waktu agar pasien ini bisa berjalan dan bergerak seperti manusia normal.
Selain itu, pasien ini memiliki kondisi yang cukup unik. Elise menyadarinya saat ia mencoba meminta sang pasien menuliskan namanya di kertas yang ia siapkan. Ia mencoba memintanya untuk keperluan pendataan pasien dan mungkin bisa menjadi metode komunikasi mereka selama tenggorokan si pasien belum pulih. Di luar dugaan, ia seorang buta huruf. Pasien itu tak mampu membaca maupun memahami bahasa dan tulisan Kekaisaran. Cukup tak terduga mengingat Kekaisaran merupakan salah satu negara yang dalam 50 tahun ini cukup giat menggalakkan pemerataan pendidikan dan pengajaran baca tulis. Jadi, bisa jadi antara 2 hal: dia ini seseorang yang berasal dari sebuah desa yang cukup terpencil untuk dapat dijangkau oleh pemerintahan. Atau, bisa jadi dia seorang turis dari negeri asing yang sangat jauh dan kemudian dengan malangnya tertimpa sejumlah bencana sehingga berakhir di desa kecil ini.
Manapun itu, sepertinya masalah ini akan menjadi rumit. Begitu pikir Elies pada awalnya. Namun, secara mengejutkan sang pasien memiliki sejumlah kecerdasan pada aspek lain. Ia mampu memahami pembahasan dan diskusi yang terbilang berat untuk ukuran penduduk desa terpencil. Tidak tampak terkejut apalagi takut dengan peralatan medis yang selalu dibawa Elise–kendati banyak pasien pedesaan yang mudah terkejut begitu melihat peralatan medis yang tampak aneh seperti suntik atau lainnya. Masih banyak juga keanehan dan keunikan lainnya tetapi Elise memilih mengabaikannya dan hanya mengamati semua itu sembari bertingkah tak menyadari apapun.
***
Elise perlahan melepas bebatan perban yang mengitari leher sang pemuda. Selanjutnya, ia membersihkan semua sisa darah dan kotoran yang menempel dengan kapas. Tak cukup dengan itu, ia meraih sebuah kristal sihir kiriman Maria lalu menginfusi sihir penyembuhan untuk memastikan bahwa sudah benar-benar tak ada luka yang tertinggal. Di belakangnya, Tuan Bratt dan Nyonya Jenkins menyaksikan semua itu dengan tatapan harap-harap cemas.
Selesai dengan semua itu, Elise menjauhkan tangannya perlahan lalu berujar, “Sekarang, Anda bisa mulai berbicara. Seharusnya pita suara yang hancur itu sudah kembali pulih setelah perawatan intensif selama 6 bulan ini.”
Pemuda itu mengangguk dan menelan ludah. Ia tampak gugup, begitu pula Elise dan dua orang di belakangnya. Perlahan, pemuda itu membuka mulutnya lalu, “A-a-a…. A… Aaa…” Suara itu, meski masih terdengar lemah, namun sangat jelas dan bersih.
“Sekarang, silakan coba untuk mulai berbicara,” perintah Elise. Ia berusaha keras menahan senyum leganya meski tak dapat dipungkiri kalau ekspresinya sedikit melonggar.
Pemuda itu kembali mengangguk. “A… A-aku…” Tuan Bratt dan Nyonya Jenkins berseru tertahan dan Elise tersenyum puas. Sedangkan itu, pemuda itu berusaha meneruskan kalimatnya. “A-aku Aka… zawa R-Ryū… ga…”
Ah, jadi itu namanya. “Akazawa… Ryūga, kan?” tanya Elise memastikan.
Pemuda itu mengangguk senang. “Te… teri… ma ka-kasih… su-sudah… me… rawat… saya…” Pemuda itu tampak mencoba berdeham. Sepertinya ia mencoba mengumpulkan kekuatan suaranya. Benar saja. Kata-kata yang keluar setelah dehaman itu menjadi sedikit lebih jelas. “Se-sebelum… nya… mohon maaf… su-sudah… merepotkan… Tuan Nyonya dan… Nona Dokter…”
Dokter? “Tak perlu begitu. Sudah menjadi kewajiban bagi seorang tabib untuk menyelamatkan nyawa sebaik mungkin. Setidaknya, itulah yang diatur dalam Sumpah Jenewa sebelum kami diangkat sebagai tabib resmi.”
Pemuda itu mengangguk-angguk. “Tetap saja… saya harus berte-terima kasih… Ah, lalu… kalau boleh tahu… ini ada di mana?”
“Desa Woodkin, desa kecil di perbatasan utara wilayah Falmuth,” jelas Elise.
Pemuda itu mengernyitkan dahi. Ia tampak kebingungan. Namun, ia kembali bertanya, “Ka-kalau begitu… ini tanggal dan… ta-tahun berapa?”
“Ini adalah tahun 1349 Tahun Midgard. Untuk tanggal dan bulan, aku tak tahu waktu tepatnya karena kami jarang menghitung kalender secara presisi, namun yang pasti ini berada di sekitar akhir Juni atau awal Juli,” jelas Tuan Bratt. Kali ini beliau yang bersuara.
“Awal Juli, tepatnya tanggal 5 Juli Tahun 1349 Tahun Midgard,” koreksi Elise.
Pemuda itu tetap mengerutkan kening. Namun, ia terus bertanya. Sesekali, Elise maupun Tuan Bratt dan Nyonya Jenkins yang mengajukan pertanyaan. Dari percapakan ini, Elise menyimpulkan beberapa hal. Pertama, pemuda ini bernama Akazawa Ryūga, nama khas ketimuran. Kedua, ia berasal dari Tokyo, suatu tempat yang nampaknya berada di tempat yang jauh di seberang benua, Kekaisaran Fusou. Ketiga, pemuda ini mengalami semacam amnesia jangka pendek hingga menengah. Perkiraan ini ia buat karena pemuda itu mengaku tak ingat mengapa ia bisa terluka seperti itu dan bagaimana ia bisa hanyut di sana. Keempat, dia sangat asing dengan tulisan dan bahasa kekaisaran kendati bisa berbicara menggunakan bahasa itu dengan lancar–atau mungkin itu disebabkan oleh suatu berkat yang dapat membantu penerjemahan antarbahasa?
Elise menutup buku catatannya. “Baiklah, untuk saat ini, kita cukupkan sampai di sini terlebih dahulu. Saya akan pulang untuk hari ini dan kembali besok untuk memantau perkembangan kondisi Anda sembari kembali bercakap-cakap seperti ini untuk mengumpulkan informasi. Apakah bisa dimengerti, Tuan…”
“Ryūga,” sambung pemuda itu.
“Baiklah, saya mengerti Tuan, Ryuga.”
“Sebenarnya, u dilafalkan… sedikit panjang tetapi… baiklah, tak mengapa… Saya paham, Nona Dokter.”
“Baiklah, terima kasih atas pengertiannya dan mohon maaf atas kesalahannya, Tuan Ryūga. Saya pamit undur diri.”
Ryūga duduk dengan melipat kedua kakinya ke belakang di atas kasur –duduk seiza– lalu menurunkan kepalanya, bersimpuh penuh terima kasih. “Sekali lagi, saya berterima kasih sedalam-dalamnya atas segala perhatian dan bantuan yang Anda berikan selama 3 bulan ini kepada saya, Nona Dokter. Saya harap di lain kesempatan dapat memiliki kemampuan untuk membalas jasa tak ternilai ini.”
Elise tersenyum. “Aku ini seorang tabib. Jadi, sudah jelas aku harus menyelamatkan orang yang terluka.”
[Malam Harinya,
Rumah Elise]
Elise menyalakan lentera sihir pribadinya, barang yang sedikit tak lazim untuk dimiliki seorang penduduk desa seperti ini. Ia meletakkan lentera di atas meja, meraih buku catatan pribadi, lalu duduk dan mulai menulis. Ia menulis beberapa hal yang perlu diingat serta hal-hal yang perlu dilakukan besok untuk penanganan kondisi Ryūga. Selesai, ia menutup buku catatan, lalu mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang tampak sedikit usang, membukanya, lalu mulai menulis:
[Subjek pengawasan menunjukkan sejumlah ciri yang dispekulasikan. Diduga kuat, subjek merupakan kasus yang sesuai dengan praduga awal. Pengumpulan bukti lebih lanjut diperlukan sebelum pengambilan keputusan lebih jauh.]
Kemudian, beberapa saat setelah ia selesai menulis semuanya, tulisan itu secara ajaib memudar sebelum menghilang sepenuhnya dari lembar gulungan.
Chapter 2
Akazawa Ryūga
Selesai